Aku dan Ulil Abshar Abdalla Part II

Melanjutkan kisah romantisme antara Aku dan Gus Ulil Abshar Abdalla Part I, kali ini aku akan bercerita tentang pertemuan perdana kami hingga projek buku yang aku garap untuk beliau.

Tepatnya di acara Haul Cak Nur yang diselenggarakan di kampus Paramadina. Ini adalah Haul Cak Nur perdana yang aku ikuti dan aku bersyukur karena acaranya digelar di kampus sendiri. Jadi gak keluar ongkos transport deh.

Melihat sususan acara yang cukup keren, ditambah lagi pembicaranya yang luar biasa, ku sempatkan sejenak waktu untuk menghadiri acara tahunan ini.

Aku bareng teman sekelas langsung menuju aula kampus usai menuntaskan matkul Filsafat Barat Modern. Sesampainya disana suasana ramai banget. Beberapa tokoh Islam Indonesia juga hadir di acara Haul Cak Nur.

Sambil menikmati suasana, ku sempatkan pula membeli beberapa buku Cak Nur yang dijual di depan aula sama penerbitnya langsung. Ku beli juga beberapa souvenir khas Cak Nur yang disediakan oleh mahasiswa kampus.

Bertemu dengan Ulil Abshar Abdalla

Nah, pas lagi asyik-asyiknya memilih souvenir, aku dicolek sama salah satu temenku seraya berkata, “Fi, Fi, tuh lihat tuh, siapa yang dateng.” OMG, ternyata yang datang adalah tokoh yang selama ini aku idolakan, Ulil Abshar Abdalla.

Sumpah, Demi Allah, aku langsung terharu banget. Gemeter nih badan melihat sosok Ulil Abshar Abdalla secara langsung. Bahkan aku sampai tak kuasa membendung air mata yang tak kusadari mulai mengalir.

Ya Allah, betapa nikmatnya rasa kala itu. Melihat secara langsung sosok yang ku banggakan cara berpikirnya, hasil pemikirannya dan karya-karyanya. Sungguh luar biasa dan tak bisa diterjemahkan dalam kata-kata.

Tanpa menunggu lama, melihat beliau sedang bersalam-salaman dengan para tamu undangan, aku langsung nyelonong tanpa etis dan berjabat tangan dengan beliau. Dan disinilah tangisku pecah tanpa kusadari.

Melihat air mataku bercucuran, beliau hanya bertanya sambil sedikit tersenyum, “Kenapa Mas kok nangis?” Aku jawab, “Saya pembaca karya-karya Anda pak Ulil.” Beliau menimpalinya dengan ucapan terima kasih dan mengajak aku duduk bareng di sebelahnya.

Ya Karim, di titik ini badanku semakin gemetar. Benar-benar tidak bisa fokus pada isi acaranya. Apa yang disampaikan para pembicara hampir tak satu pun aku ingat. Semua konsentrasiku hanya tertuju pada Ulil, Ulil dan Ulil.

Konsentrasiku mulai fokus ketika pembicara menyinggung nama Ulil Abshar dalam orasinya. Seingatku,pembicara menyampaikan, ‘acara malam itu dihadiri oleh pemikir muda Islam yang cukup ia segani, yakni Ulil Abshar Abdalla.’ Seketika Gus Ulil berdiri dan memberikan salam para semua audien.

Wow, wow, sampai segitunya ya Ulil Abshar. Reputasinya sebagai intelektual muda Islam sampai disegani oleh pembicara yang didatangkan langsung dari Barat. Oh ya, aku ceritakan juga, pembicara yang menyebut nama Ulil kala itu kalau gak salah dari Barat deh, entah lupa negaranya.

Singkat cerita, saat acara berlangsung aku tak bisa ngobrol-ngobrol dengan Gus Ulil, lantaran beliau fokus menyimak isi acara. Nah, pas acara sudah selesai, mulai deh Gus Ulil dikerumuni sejumlah mahasiswa dan banyak orang lainnya buat minta foto atau sekedar bertanya ringan.

Aku tak mau kalah dong. Ku tunggu hingga Gus Ulil sendiri dan tak ada yang minta foto bareng beliau, baru deh aku maju menemuinya. Ku sampaikan salam pada beliau dan memperkenalkan diri sebagai mahasiswa Filsafat + pembaca karya-karya beliau.

Di pertemuan itu ada 2 permintaan yang ku ajukan. Pertama, minta foto. Wkwkwkw, jelas lah kalau ini mah. Kedua, minta nasehat tentang buku-buku yang harus aku baca agar bisa memiliki cara pandang seperti beliau.

Wtf, melihat aku sebagai mahasiswa Filsafat Paramadina, beliau menyarankan aku membaca semua karya Cak Nur + Gurunya Cak Nur, alias Fazlur Rahman. Selain kedua tokoh itu, Gus Ulil juga menyarankan membaca beberapa pemikir Islam, baik dari Timur maupun Barat.

Setelah menyampaikan sedikit nasehat padaku, Gus Ulil menutupnya dengan suatu ajakan yang tak pernah aku lupakan sampai kapan pun. Beliau menyampaikan ‘Mari kita dalami dan tebarkan Islam yang menyegarkan dan membebaskan.’

Ya Allah, Subhanallah, mendengar kalimat terakhir itu, tangisku pecah. Gus Ulil hanya menepuk pundakku seraya berkata, ‘Semangat Mas belajarnya!‘. Dan kami pun mengakhiri perjumpaan itu dengan jabat tangan yang cukup erat dan ditutup dengan ucapan terima kasihku pada beliau, ‘Terima kasih Pak Ulil.’

Momentum ini benar-benar tidak bisa aku lupakan. Teramat romantis jika harus diingat kembali. Nasehat yang disampaikan pun masih terpatri kuat dalam hati. Sungguh, sungguh, itu menjadi titik dimana aku semangat mengarungi ibukota untuk mendalami pemikiran Islam dan filsafat.

Andai aku tak kuliah di Jakarta, mungkin sulit sekali bagiku untuk berjumpa dengan tokoh-tokoh yang aku idolakan semasa di pesantren, khususnya Gus Ulil. Sekali lagi, aku bersyukur dan berterima kasih banget pada Tuhan yang memudahkan jalanku menuju Paramadina.

Semenjak pertemuan perdanaku dengan Gus Ulil, aku makin rajin membaca karya-karya beliau dan karya Cak Nur sebagaimana yang beliau nasehatkan.

Aku juga mulai rajin mengikuti diskusi maupun kajian beliau yang diadakan secara rutin di Utan Kayu. Alhamdulillah, kian lama hubungan kami kian harmonis. Bila beliau melemparkan suatu diskusi, aku selalu berupaya mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait materi yang beliau sampaikan.

Tujuanku satu, agar beliau mengingatku. Titik.

Belum lagi di dunia online, kami juga sering diskusi, saling menimpali dan saling follow. Eaaa. Lah, beneran loh, akun Twitter-ku yang dulu di folbek sama Gus Ulil, dan rasanya tuh nyeeeeees banget.

Pendek kata, situs yang pasti aku pantengin tiap hari, Islamlib.com, kini mulai istirahat. Beberapa hari aku tunggu update’annya, eh tak kunjung ada. Untuk menjawab kekepoan itu, aku tanyakan langsung pada Gus Ulil, apakah Islamlib.com akan ditutup? Jawabnya, tidak. Namun diistirahatkan dulu, jadi artikelnya belum diupdate.

Waduh, kalau gitu aku gak bisa membaca artikel-artikel Gus Ulil lagi dong. Eh, ternyata beliau tidak sepenuhnya rehat menulis, namun hanya ganti situs saja ke Qureta. Oke deh, kini Qureta menjadi situs kedua yang wajib aku pantengin selain Islamlib.com.

Ladalah, ternyata di Qureta pun Gus Ulil tak seaktif di Islamlib. Wah, gimana ini? Bukan aku sok khawatir ya, tapi sejujurnya sehari tanpa membaca tulisan beliau, kayak ada yang kurang gitu dalam hidupku.

Ya meski beliau sangat aktif sih di Twitter dan sesekali memberikan kultweet, tapi kan gak sepanjang di artikel.

Berangkat dari kegelisahan ini, aku berinisiatif untuk menyelamatkan semua karya-karya beliau yang tersebar di jagat maya untuk dikumpulkan jadi satu. Aku hanya khawatir, jika suatu saat situs Islamlib.com ditutup secara tiba-tiba dan aku belum sempat menyimpan artikel-artikel Gus Ulil, aku gak bisa baca artikel beliau lagi dong?

Karenanya, aku menginisiasikan ide itu. Karena ini menyangkut karya orang, aku meminta ridho + doa beliau terlebih dulu akan ideku ini. Alhamdulillah, beliau yes dan justru sangat berterima kasih bilamana ini berhasil dikerjakan. Beliau juga memberi pesan, bila nanti sudah terkumpul dan tersusun rapi, agar disebarluaskan ke yang lain.

Dengan mengucap Bismillah, aku memulai projek ini. Bagiku ini bukan hanya sekedar mengumpulkan artikel yang bertebaran di jagat maya saja, tapi ini adalah akhlak santri pada ustadznya, akhlak murid pada gurunya, akhlak anak pada orangtuanya, dan Gus Ulil sudah aku anggap itu.

Alhamdulillah juga, hingga detik ini, sejak tulisan ini aku post, aku sudah mengumpulakan artikel beliau lebih dari 200 judul, dan aku kira masih banyak yang belum aku kumpulkan. Kalau halaman Word sih, udah sampai 350 lebih. Subhanallah.

Kalau ditanya, kenapa sih Mas harus sampai sebegitunya?

Hei, ini adalah caraku ngefans seseorang. Aku yakin, setiap orang pasti punya idola masing-masing, entah dia penyanyi, pelukis, pemusik, pemain film atau yang lain. Dan tiap orang juga memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan rasa cintanya pada yang diidolakan.

Dan inilah caraku!

Baca juga : Aku dan Ulil Abshar Abdalla Part I

Aku hanya berharap, semoga hubunganku dengan beliau tetap terjaga, tetap baik dan harmonis. Meski sekarang aku tak lagi di Jakarta, aku tetap tenang dan bahagia. Sebab Gus Ulil kini aktif banget memberi kajian berupa ‘Ngaji Ihya’, baik di Youtube maupun di kajian offline.

Semoga apa yang aku kerjakan ini juga diridhoi oleh Allah, dimudahkan jalannya, dan bisa menjadi amal ibadah + amal jariyah buat Gus Ulil Abshar Abdalla.

So, segini saja ya cerita romantisme antara aku dan Gus Ulil Abshar Abdalla. Semoga kalian bisa mengambil nilai positif dari cerita ini, amin.

Catatan saja! Salah satu cara merubah hidup ialah dengan ngefans. So, Fans’lah orang yang akan memberikan pengaruh positif pada hidupmu! Ikuti, hargai dan pahami apa yang telah dibuat, atau semua karya dari yang kamu Fans.

Jika kalian ngefans Nabi Muhammad, maka bacalah Sirah Nabawiyah, bacalah kisah hidupnya, hafalkan sebanyak mungkin hadist-hadistnya, dan itulah caranya menjadi fans yang baik dan bermanfaat!

Tinggalkan komentar