Aku dan Ulil Abshar Abdalla Part I

Siapa Ulil Abshar Abdalla? Apa karyanya? Bagaimana aku bisa mengenalnya? Buku apa saja yang sudah ku baca? Dan bagaimana romanistme diriku dengannya?

Kali ini aku ingin bercerita tentang sosok yang cukup berpengaruh pada hidupku. Sosok yang telah membentuk pemikiranku. Sosok yang memberiku semangat untuk terus membaca, membaca dan menulis. Beliau adalah Ulil Abshar Abdalla.

Sebelum ngobrolin siapa Ulil Abshar Abdalla, mungkin aku lebih culu cerita bagaimana aku mengenal sosok Ulil Abshar. Dengan begitu kalian bisa memahami konteks serta mengambil hikmah dari kisah perkenalan ini.

Berawal Dari Ilmu Kalam

Persisnya ketika aku kelas 2 MA, di pesantren Ar Roudlotul Ilmiah. Di jenjang ini kebetulan aku mengambil jurusan keagamaan. Kenapa keagamaan? Sebab aku tak begitu suka menghitung, jadi IPA dan IPS kurang begitu menarik menurutku.

Pada jurusan keagamaan aku mulai dikenalkan mapel (mata pelajaran) Ilmu Kalam dan beberapa mapel yang cukup rasional. Dari mapel inilah kemudian aku berhasrat membaca buku-buku tentang pemikiran hingga filsafat.

Aku masih ingat waktu itu, buku ilmu kalam yang pertama aku baca ialah Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan karangan Prof. Harun Nasution. Bukunya cukup tipis, namun isinya padat akan ilmu. Aku baca buku ini hingga berkali-kali untuk memahami ilmu kalam seperti apa.

Tak puas membaca buku itu, aku baca buku Studi Ilmu Kalam karangan Dr. Suryan. Namun ternyata isinya kurang lebih sama, hanya saja ulasan yang disampaikan Dr. Suryan lebih mendetail.

Usai membaca kedua buku tersebut, kemudian aku membuat sedikit peta kecil tentang ilmu kalam ini. Setidaknya ada beberapa cabang ilmu yang harus aku baca bukunya, salah satunya Filsafat.

Filsafat? Apa itu filsafat? Di masa itu aku hanya tau namanya, tapi belum tau rasanya. Eaaa, Kala itu satu-satunya jalan untuk mengenal filsafat hanyalah membaca buku. Gak seperti sekarang yang langsung bisa nyari di Google. Semua harus melalui buku jika ingin mengetahui sesuatu.

Alhamdulillah, Tuhan memberiku kemudahan belajar. Aku disodorkan pada novel ciamik, judulnya Dunia Sophie. Novel ini bisa dikatakan sebagai pintu gerbang belajar filsafat. Disana memuat sejumlah pemikiran filosofis yang dikemas dalam bentuk fiksi. Sangat buagus, sangat memuaskan imajinasi, dan cukup membuatku klimaks membacanya.

50 Tokoh Liberal Indonesia

Tuntas membaca novel Dunia Sophie, salah satu temanku menuliskan sebuah nama pada secarik kertas. Nama itu adalah Ulil Abshar Abdalla. Aku bertanya, siapa Ulil Abshar Abdalla? Dia kemudian menyodorkan sebuah buku berjudul, 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia. Aku tanya dia? Kenapa dengan buku ini dan apa relasinya dengan Ulil? Eh jawaban dia malah, “udah baca aja.”

Jujur saja, aku gak tau maksud dia apa memberikan buku itu ke aku. Ada dua kemungkinan sih, dia ingin mewanti-wanti agar aku tak terjerumus ke pemikiran liberal, atau justru ingin mengenalkanku dengan sosok pemikir liberal di buku itu, termasuk Ulil Abshar.

Tak butuh waktu lama buku itu tuntas ku baca. Dari sana aku mengenal banyak nama besar yang sudah tak asing di telingaku. Di buku itu pula aku mengenal sosok Ulil Abshar dan Nurcholish Madjid, sang pembaharu pemikiran Islam yang tak diragukan lagi samudra pemikirannya.

Usai membaca buku 50 Tokoh Islam Liberal, banyak hal yang ku diskusikan dengan temanku tersebut. Mulai dari Jaringan Islam Liberal, apa itu Liberal, Pluralisme, Sekularisme, hingga sosok Ulil dan Nurcholish Madjid.

Alhasil, bukan makin takut dengan pemikiran liberal, aku justru semakin ingin tahu apa itu pemikiran Islam Liberal ala Ulil dan Nurcholish Madjid sebagaimana yang dituduhkan kebanyakan orang.

Sekali lagi, satu-satunya cara adalah membaca buku, bukan browsing di Google, wkwkwk.

Membaca Karya Ulil Abshar

Aku pun mangkat ke Gramedia guna memburu bukunya Ulil Abshar dan Cak Nur (sapaan khas Nurcholish Madjid). Puji Tuhan, aku bisa membawa pulang buku yang berjudul Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam, Membakar Rumah Tuhan, Menjadi Muslim Liberal, ketiganya karangan Ulil Abshar Abdalla.

Selain ketiga buku itu, aku juga borong bukunya Cak Nur yang berjudul Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, dan buku Pintu-Pintu Menuju Tuhan. Total aku membeli 5 buku. Akibatnya tau gak? Uang jajanku habis, bahkan sampai ngutang teman-teman. Wkwkwkw.

Sesuai urutannya, aku baca dulu buku-bukunya Ulil Abshar. Tuntas membaca ketiga buku itu, aku lanjut dengan bukunya Cak Nur. Jangan bertanya apakah aku bisa memahainya atau tidak, sekali lagi jangan. Butuh waktu dan pemikiran yang ekstra untuk memahami kelima buku itu. Semuanya berat dan cukup membuatku pusing 1000 keliling.

Nah, disini ada cerita menarik nih. Kala itu aku gak tau apakah pesantren tempatku menimba ilmu menerima pemikiran Ulil dan Cak Nur atau tidak. Aku sih santai saja membacanya, dimana ada tempat nyantai + angin sepoi-sepoi, aku pasti disana.

Suatu ketika, aku mengirim secarik artikel ke mading pesantren. Alhamdulillah, sejak kelas 2 Mts aku sangat rajin menulis dan pernah menyabet predikat penulis paling produktif di se-Pesantren, membabat habis seluruh santri Mts maupun MA. Wkwkwkwkw,

Nah, ternyata artikel yang aku kirim di publish sama pengurus mading. Kalau gak salah judul artikel itu “Islam dan Pluralisme Agama”. Googs kan, kelas 2 MA cuy udah nulis kayak gituan di pesantren.

Debat Sama Ustadz Tentang Ulil

Eh gak ada mendung gak ada hujan, tiba-tiba ada petir menyambar. Aku dipanggil salah satu pembina santri atau musrif, dan diajak bicara empat mata. Batinku waktu itu, duh enek opo iki rek, kok sampek aku dicelok. Rumongsoku aku gak ngelanggar opo-opo i. Benar-banar dag dig dug der deh!

Pas menghadap sang pembina, beliau langsung menghujaniku pertanyaan tentang Islam Liberal, Pluralisme, hingga buku-buku apa saja yang aku baca. Whats? Sampai segitunya kah? Oh ternyata pemikiran Islam Liberal disini dilarang toh, baru tau aku.

Yah namanya Halfi ya, jelas tidak mau ngalah lah. Dengan jusrus silat lidah aku menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang dihujamkan ke aku. Bahkan tak sebentar aku berdebat dengan beliau tentang pemikiran Islam, khususnya yang dibawakan oleh Ulil Abshar.

Namanya juga ustadz, ya pasti hafal banyak ayat + hadist. Beliau mengnerkamku dengan puluhan ayat dan hadist Nabi. Aku sih paham maksudnya, beliau ingin menyampaikan kalau Islam Liberal itu haram, dan aku diminta berhenti mempelajarinya. Ya kurang lebih begitulah.

Endingnya, aku tetap kekeh dengan pendirianku tanpa harus menyebutkan buku-buku yang aku baca. Karena aku tahu, kalau aku menyebutkan buku-buku yang aku beli di Gramedia itu, pasti akan dirampas sama si Doi.

Di akhir diskusi, aku menutup debat itu dengan mengutip kilas balik Sang Imam Al Ghazali. Untuk mengharamkan Filsafat, Imam Ghazali ingin mengetahui + memahami filsafat terlebih dulu. Baru setelah paham betul, beliau baru menemukan dimana titik haramnya filsafat.

Pun dengan Islam Liberal. Untuk mengetahui haramnya Islam Liberal, aku butuk waktu untuk mempelajari dan memahaminya secara betul-betul. Baru setelah aku paham dan menemuka titik keharamannya itu, aku akan meninggalkannya. Dan eits, si ustadz hanya diam saja.

Hahaha, ya begitulah sedikit banyak cerita kocak yang pernah aku alami sewaktu mengenal sosok Ulil dan mempelajari pemikirannya.

Singkat cerita, berangkat dari beberapa buku itu aku semakin mengidolakan Ulil Abshar. Jika ditanya, kenapa aku mengidolakan Ulil Abshar? Sekali lagi bukan dari hasil pemikirannya, namun cara berpikirnya. Aku menilai cara berpikir Ulil Abshar sangat-sangat keren, dan tak sedikit pun diajarkan di pesantren.

Tak cukup sampai disini, dari buku itu pula aku mengenal situs hebat bernama Islamlib.com. Yaps, itu merupakan situs official Jaringan Islam Liberal yang memuat beragam artikel pendek yang ditulis oleh orang-orang yang tak diragukan lagi studinya.

Gara-gara mengenal situs itu, diam-diam aku mulai melanggar aturan pesantren, apalagi kalau bukan ke warnet. Hampir tiap pekan aku ke warnet dan membaca artikel demi artikel di situs Islamlib.com. Tak puas lantaran waktu yang terbatas, aku sampai ngeprint beberapa artikel agar bisa ku baca di pesantren.

Aku mulai kenal sosok para pemikiran Islam di Barat, seperti Fazlur Rahman dkk. Bagiku sosok-sosok itu bakal menjadi daftar selanjutkan orang-orang yang harus aku baca bukunya.

Loh Mas, bagaimana dengan Cak Nur?

Karena artikel ini fokus membahas romantisme antara aku dan Ulil Abshar Abdalla, InsyaAllah jika ada kesempatan aku akan menulis romantisme antara aku dan Nurcholish Madjid.

Singkat cerita, kurang lebih begitulah kilas balik aku mengenal sosok Ulil Abshar Abdalla dan Jaringan Islam Liberal. Aku pribadi sejujurnya tak sesensi orang-orang yang memandang pemikiran Ulil sebagai aliran sesat. Bahkan sempat pula aku membaca kabar Ulil Abshar pernah dikirimin sebuah buku yang di dalamnya di tanam BOM. Syukur Alhamdulillah, Allah masih sayang Ulil dan menyelamatkannya dari perbuatan keji orang yang tak bertanggung jawab itu.

Siapa Ulil Abshar Abdalla?

Dari pandangaku, dia sosok yang hebat, pemikir yang cerdas dan luas. Sosok yang telah mengenalkanku pada samudra pemikiran yang lebih terbuka dan menyegarkan, tidak kaku dan tidak konservatif. Sosok yang membuatku giat membaca dan menulis. Serta sosok yang mengajariku makna toleransi dan keberagamaan.

Sekali lagi, itu dari pandanganku.

Jika dilihat dari profil objektifnya, Ulil Abshar lahir di Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967. Ia berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama. Ayahnya Abdullah Rifa’i dari Pesantren Mansajul Ulum, Pati, sedangkan mertuanya, Mustofa Bisri atau Gus Mus, kyai dari Pesantren Raudlatut Talibin, Rembang.

Ulil menyelesaikan pendidikan menengahnya di Madrasah Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH M Ahmad Sahal Mahfudz. Ia pernah nyantri di Pesantren Mansajul ‘Ulum, Cebolek, Kajen, Pati, serta Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

Beliau mendapat gelar Sarjananya di Fakultas Syariah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta, dan pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Beliau juga lulusan program doktoral di Universitas Boston, Massachussetts, AS.

Ulil Abshar pernah menjadi Ketua Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Nahdlatul Ulama, Jakarta, staf peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), serta Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Sumber Kompas, 15/03/2011.

Baca juga pandangan Kyai Abdul Moqsith Ghazali tentang Ulil Abshar di artikel Ulil Abshar Abdalla dan Saya

So, itulah kurang lebih perjalananku mengenal sosok Ulil Abshar Abdalla. InsyaAllah cerita romantisme antara aku dan Ulil Abshar akan ku tulis di artikel yang berbeda.

Semoga kalian bisa mengambil hikmah dari kisah kasih ini, dan semoga kalian bisa mengambil nilai dari siapapun sosok yang kalian idolakan.

Catatan saja

Siapapun pasti memiliki idola, termasuk aku, kamu dan kalian. Pesanku, ketika kalian mengidolakan seseorang, kenalilah dia sedalam-dalamnya. Jika dia punya karya, bacalah karyanya, dengarkan karya dan tonton karyanya. InsyaAllah dengan begitu, kalian tak merugi mengidolakannya.

Tinggalkan komentar